apa kita bisa terapkan makna satu dalam kehidupan sehari-hari pada masyarakat yang memang terdiri dari berbagai macam  sisi yang bersudut pada satu yakni kebangsaan.dalam setiap kesempatan dari waktu kecil saat masih sekolah dasar dalam benak ini sebagai anak negeri.

Dalam benak selalu bertanya”kenapa guru  pendidikan kewarganegaraan sejak masih sekolah dasar selalu membicarakan yang namanya tengang rasa atau atau dalam pengertian rasa pengecap ada satu hal yang netral seperti air tawar.

Masih tengambar jelang ketika pertemuan dengan temanku di komunitas online setingkat provinsi.ketika ada pembicaraan rencana buka bersama di bulan ramadhan di rumah seorang guru yang kepercayaan berlawan dengan acara yang di maksud.hingga rasa ini membesitkan  kata “indahnya kebersamaan”

bingkai kebersamaan yang suci

bingkai kebersamaan yang suci

Ini  saatnya perkataan tengang rasa  yang di suarakan dengan lantang namun kenyataan di luasnya negeri ini kelantangan itu terlihat lain.dalam perjalanannya  acara yang di gagas untuk mengumupulkan  teman ini mula ada titik sudut satu.dalam tulis si tuan rumah’mari berkumpul di rumah walau hanya dengan makanan sederhana.

Namun dalam benak ini wujud tengang rasa ternyata aku bisa harapkan di terapkan walau dalam lingkup komunitas online.acara itupun datang dengan penuh harapan agar ada cahaya cerah dalam dalam membahas makna satu yang kadang sulit bertemu kerena egois dan fanatisme yang tak patas muncul di negeri yang berfilosofi satu.

Semoga makna satu yang kadang bisa bias di luasnya negeri ini menjadi sedikit terang. akan bisa cerah seperti air tawar yang baru turun dari mata air sampai keperkampungan.seperti pertiwi yang memberi kata satu untuk semua rakyat tanpa ada kata buntu .ingatlah  kita pada darah  pendiri bangsa keluar dari bermacam-macam wadak.namun ruh mereka berkata tetap darah ini bersatu dalam kuburan massa untuk bangsaku.